Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

 Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal





(Pengantar dari mimpi, trauma, dan kenapa cerita ini lahir)

“Aku tidak menulis ini untuk menjelaskan siapa aku—tapi untuk menyapa rasa yang terlalu lama duduk diam, memeluk luka tanpa suara.”


Setiap orang punya titik gelapnya.

Tapi bagaimana jika titik itu berubah jadi lorong?

Sebuah lorong panjang yang tak terlihat ujungnya, hanya gelap,

dan satu suara kecil—yang terus memanggil namamu.

Itu bukan suara dari luar. Itu dari dalam.


Aku memulai perjalanan ini bukan karena ingin,

tapi karena mimpi.

Sebuah mimpi tentang seorang perempuan yang berdiri di tengah ruangan merah.

Ia tak bicara. Tapi matanya penuh pesan.

Dan sejak malam itu, aku tahu…

ada sesuatu yang harus kutulis. Sesuatu yang sudah lama terkunci dalam perasaan tunggalku.


Aku tumbuh dengan banyak hal yang tidak selesai.

Percakapan yang tak pernah dimulai.

Pelukan yang tak pernah diberikan.

Sepeda motor yang tak bisa kutunggangi tanpa tangan bergetar.

Dan trauma yang menyamar jadi keheningan.


Ini bukan cerita motivasi.

Ini bukan kisah tentang sembuh.

Ini adalah tentang menyadari bahwa aku masih di sini.

Bahwa perasaanku, meski tunggal, layak untuk diajak bicara.


Dan kalau kamu, yang sedang membaca ini,

pernah merasa seperti aku—

maka mungkin cerita ini bukan cuma milikku.


Ini untuk kita.

Yang masih berusaha berdamai.

Yang masih percaya bahwa luka tak selamanya bisu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api