Bab 8 Dialog dengan Ayah yang Tak Bernama



Bab 8 Dialog dengan Ayah yang Tak Bernama

Aku berada di sebuah ruang kosong. Dindingnya putih kusam, lantainya dingin, dan hanya ada satu kursi—di tengah ruangan, menghadap ke kursi lain yang kosong.

Aku tahu siapa yang akan duduk di sana.

Tapi yang tak pernah aku tahu adalah... siapa sebenarnya dia.


Suaranya tiba-tiba hadir. Tidak datang dari depan, tapi dari belakang kepalaku. Seperti gema dari masa kecil yang tak pernah benar-benar aku mengerti.


“Kau marah padaku, ya?”


Aku diam. Mulutku seperti terkunci oleh segala dendam yang tak selesai. Dendam yang kubungkus dengan doa agar aku bisa kuat sendiri.

“Aku nggak tahu caranya jadi ayah…”

“Tapi kau tetap menyakitiku.”

“Aku cuma menyalurkan luka yang nggak pernah aku tahu cara sembuhnya.”


Aku memejamkan mata. Suaranya kini ada di depan. Dan saat kubuka mata, kursi itu sudah terisi.


Bukan sosok pria dewasa. Tapi siluet.

Gelap. Samar. Tak punya wajah.

Ayah.

Tapi bukan ayah yang selama ini kukenal.

Melainkan ayah sebagai sosok dalam kepalaku. Yang kuprotes. Yang kutunggu. Yang kucaci dalam diam. Yang kucari di setiap keputusan besar dalam hidupku.


“Kenapa lu pergi?”

“Karena aku takut... mencintaimu seperti aku tak pernah dicintai dulu.”

“Kenapa lu nggak pernah minta maaf?”

“Karena aku pikir diamku adalah bentuk minta maaf.”

“Tapi itu bikin aku ngerasa nggak berarti.”

“Maaf…”


Siluet itu perlahan berubah. Mulai punya bentuk, tapi belum punya wajah.

Seolah menunggu aku untuk menyelesaikan gambarannya.

Aku mulai bicara. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk akhirnya mengakui rasa rindu.

Rindu untuk dipeluk, meski hanya sekali tanpa alasan.

Rindu untuk didengar tanpa harus merasa bersalah.

Rindu untuk jadi anak yang tahu rasanya punya panutan—meski hanya sesaat.


“Gue marah. Tapi gue capek juga benci terus.”

“Gue sedih, karena gue sadar… sebagian dari lu ada di dalam diri gue.”

“Dan selama ini, gue bukan cuma nyari elu… gue nyari bagian dari diri gue yang hilang waktu elu ninggalin gue.”

Hening. Tapi hening yang hangat.

Siluet itu berdiri, lalu menghampiriku.

Tanpa suara, hanya menaruh tangannya di pundakku.

Lalu berkata:


“Bukan salahmu untuk tumbuh dari luka.

Tapi sekarang, giliranmu untuk menyayangi dirimu seperti aku tak pernah bisa.”


Aku menunduk, mata panas. Tapi air mata tak jatuh. Mungkin karena sekarang, tangis bukan lagi bentuk lemah—melainkan bentuk pulang.

Dan sebelum ruangan itu menghilang,

aku tahu, aku telah berbicara dengan bagian dari diriku yang selama ini terpenjara dalam sosok yang tak pernah sempat kutelusuri.


Ayah. Bukan lagi nama. Tapi bagian dari cerita.

Yang kini tak lagi jadi musuh dalam mimpi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api