UNTUKMU TUAN
Di Ujung Malam, Sebelum Hari Berganti Langit malam sudah gelap sempurna. Jam di layar ponsel hampir menunjukkan pukul 23.59 WIB. Tapi di kepala, suara-suara masih ramai. Ekspektasi, tuntutan, kata-kata yang berulang kali diucapkan—seolah lebih keras dari detak jarum jam. Di satu sisi, ada aku. Berusaha, mencoba, jatuh, bangkit lagi. Di sisi lain, ada mereka. Melihatku dari kejauhan, tapi dengan pandangan yang berbeda. Bukan seperti apa adanya aku, tapi seperti apa yang mereka ingin aku jadi. Aku ingin menjelaskan. Aku ingin mereka melihat. Tapi seberapa keras aku berbicara, seolah suara mereka selalu lebih nyaring. Aku tersesat di antara realita dan ekspektasi yang mereka bangun sendiri. Aku berjalan, tapi langkahku tertahan. Aku berbicara, tapi kata-kataku tenggelam dalam kebanggaan mereka akan cerita-cerita lama. Jadi malam itu, sebelum hari berganti, aku menulis. Bukan dengan amarah, tapi dengan kelelahan. Bukan dengan kebencian, tapi dengan kesadaran. Jika mereka hanya ingin bicara...