Bab 7 — 8 Melepaskan dengan Doa
Setelah membaca pesan itu, gue gak langsung hancur.
Gak ada dramatisasi.
Yang ada cuma... diam.
Gue buka jendela kamar.
Langit sore itu tenang.
Dan di dalam diri gue,
ada yang pelan-pelan berubah bentuk.
Rasa itu masih ada.
Tapi gak lagi berontak.
Gak lagi minta dipahami.
Dia jadi doa.
Bukan doa untuk minta bersama.
Tapi doa agar dia bahagia.
Doa agar gue kuat.
Dan doa agar cinta ini... tetap murni meskipun gak tersambut.
Hari-hari setelahnya gue isi dengan lagu.
Bukan buat viral.
Bukan buat nunjukin rasa.
Tapi buat menjaga api kecil yang dulu dia nyalakan —
biar gak mati, meskipun gak lagi dia tiup.
Lagu “Muliakan Cinta” dan “Di Keabadian”
lahir bukan karena gue pengen dikenang,
tapi karena gue gak bisa bohongin cinta yang pernah hadir dan bikin gue pulih.
Setiap liriknya,
adalah bentuk dari rasa yang udah gak minta balasan...
tapi tetap ingin dikenang sebagai hal yang suci.
Gue mulai posting pelan-pelan.
Gak banyak kata. Gak kode lagi.
Cuma simbol.
Cuma aura.
Dan diam-diam gue berharap…
kalau suatu hari dia dengar lagunya,
dia tahu...
bahwa itu bukan panggilan untuk kembali,
tapi ucapan terima kasih —
karena udah pernah jadi cahaya.
Dan malam-malam setelah itu...
gue gak nangis.
Gue gak marah.
Gue malah lebih sering duduk lama dalam gelap...
sambil nyebut nama Tuhan pelan-pelan.
“Ya Allah, kalau cinta ini bukan untukku,
jadikan ia jalan untuk aku lebih dekat kepada-Mu.”
Cinta itu bukan tentang memiliki.
Tapi tentang bagaimana kita bisa tetap mencintai...
tanpa menghancurkan siapa-siapa.
Dan malam itu gue sadar:
Cinta gue mungkin gak berbalas.
Tapi cinta gue udah sampai —
ke tempat yang paling tinggi: doa.
Bab 8 – Kembali Pulang
Gue pikir cinta selalu soal memiliki.
Ternyata… cinta yang paling dalam,
adalah yang bisa dilepas… tanpa kehilangan maknanya.
Setelah semua ini,
gue gak lagi nunggu jawaban dari dia.
Gue juga gak nyimpen harapan diam-diam.
Yang gue simpan cuma satu:
Rasa hormat.
Karena Kak Raya bukan cuma guru.
Dia adalah saksi — bahwa gue pernah bangkit, dari reruntuhan paling dalam.
Gue kembali ke sekolah.
Gue kembali belajar.
Gue kembali menata langkah pelan-pelan.
Gue sadar sekarang,
gue gak butuh dikasih balasan untuk tahu:
gue pernah mencintai dengan benar.
Dan lebih dari itu…
gue kembali ke diri gue sendiri.
Versi yang lebih tenang.
Yang lebih jujur.
Yang lebih tahu:
"Cinta yang tulus, bukan untuk dimiliki. Tapi untuk menjadikan lo pribadi yang lebih baik."
Gue masih nulis.
Masih nyanyi.
Masih suka lihat bulan,
karena di bawah bulan yang sama,
gue pernah kirim rasa paling murni dalam bentuk doa.
Gue juga masih berdoa.
Tapi sekarang, gak lagi dengan air mata yang takut…
melainkan dengan hati yang rela.
“Ya Allah…
Terima kasih karena Engkau tak mengabulkan semua keinginanku,
tapi tetap memberikan semua yang aku butuhkan.”
Dan kalau suatu hari nanti,
gue melihat Kak Raya lagi,
entah sebagai guru, atau hanya bayangan kenangan…
gue akan menunduk pelan,
tersenyum dalam hati,
dan membisikkan:
“Terima kasih… karena pernah jadi alasan aku pulang.”
Tamat.

Komentar
Posting Komentar