Bagian 1 – Perjalanan Dalam Diri Bab 2: Luka yang Menyapa dalam Diam

 Bagian 1 – Perjalanan Dalam Diri



Bab 2: Luka yang Menyapa dalam Diam

“Bukan karena aku tak ingin bercerita, tapi karena aku sendiri tak tahu harus mulai dari mana.”


Diam itu bukan hening.

Ia seperti seseorang yang duduk di sampingmu, tapi tak pernah benar-benar hadir.

Luka itu datang bukan seperti hujan—yang kau tahu akan basah.

Tapi seperti kabut, menyusup perlahan, tanpa bunyi, sampai kamu tak bisa melihat dirimu sendiri.

Aku masih ingat,

waktu aku kecil dan dunia terasa terlalu besar.

Ada rasa asing di dada setiap kali aku masuk sekolah,

setiap kali orang tuaku bicara tapi tak benar-benar mendengarku.

Aku seperti hidup di antara orang-orang yang sibuk menata rumah, tapi lupa bahwa aku juga sedang bertumbuh di dalamnya.


Saat itulah luka pertama datang.

Ia menyapa tanpa suara.

Menumpuk hari demi hari.

Sampai aku lupa, bagaimana rasanya jadi anak-anak yang utuh.

Kadang aku ingin marah,

tapi tak ada yang bisa kupukul selain udara.

Kadang aku ingin menangis,

tapi tak ada yang bisa kudatangi selain bantal.


Luka itu tak selalu berdarah, bro.

Kadang ia hanya jadi beban yang kamu bawa,

ke mana-mana,

tanpa kamu sadar…

kamu udah lelah banget.


Tapi tetap berjalan,

karena itulah satu-satunya yang kamu tahu.


Waktu itu aku masih kecil,

dan seperti anak-anak pada umumnya, aku hanya tahu satu hal:

aku ingin dicintai tanpa harus diminta.


Tapi yang kupelajari lebih dulu justru diam.

Diam untuk menghindari marahnya ayah,

diam agar tak menyusahkan ibu yang sering terlihat lelah.

Diam karena setiap kalimat yang keluar dari mulutku…

tak pernah benar-benar sampai.

Aku tumbuh sambil mengecilkan suaraku sendiri.

Dan saat suara dalam diriku mulai berbicara—suara yang lirih, penuh pertanyaan, penuh rindu akan pelukan yang tak pernah datang—aku justru belajar untuk menekannya lebih dalam.


“Jangan manja.”

“Anak laki-laki harus kuat.”

“Jangan cengeng.”


Kata-kata itu jadi mantra yang menempel di kepalaku,

jadi pagar yang membatasi air mata agar tak pernah tumpah.


Sampai akhirnya luka itu tumbuh.

Bukan di kulit, tapi di dalam.

Di ruang-ruang kosong yang diciptakan oleh kebutuhan yang tak terpenuhi.

Keinginan untuk dimengerti yang terus-menerus ditertawakan.


Aku pernah coba berbicara pada tembok kamarku.

Bercerita panjang lebar tentang hari yang aneh dan perasaan yang sesak.

Dan tembok itu, meski bisu, terasa lebih aman daripada orang-orang.


Sejak saat itu aku sadar,

luka yang menyapa dalam diam bukanlah luka yang akan sembuh dengan waktu.

Karena diam hanya membuatnya tumbuh lebih dalam, lebih tenang, lebih tak terlihat.

Dan aku tahu—aku tahu betul—bahwa ada banyak dari kita yang menyimpan luka seperti itu.

Yang terlihat baik-baik saja di luar,

tapi retak di dalam.


Kita hidup di dunia yang lebih peduli pada keberhasilan daripada keutuhan.

Kita diminta untuk terus bergerak, padahal belum selesai berdamai dengan diri sendiri.


Malam itu aku bermimpi lagi.

Tentang lorong putih panjang,

tentang suara langkah kaki yang menghilang.

Tentang gadis yang berdiri di tengah cahaya merah, tapi tak bisa kuteriaki.


Mimpi itu bukan cuma mimpi,

ia adalah gema dari luka lama,

yang tak kunjung sembuh,

karena tak pernah benar-benar dikenali.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api