Bab 9 Simbiosis Trauma dan Cinta

 


Bab 9

Simbiosis Trauma dan Cinta

Di antara lorong mimpi dan kesadaran,
aku menemukan tempat yang aneh:
sebuah rumah kaca—penuh tanaman yang tumbuh dari bekas luka.

Setiap tanaman punya bentuk berbeda.
Ada yang menjalar liar, berduri.
Ada yang kecil tapi berbunga.
Ada juga yang seperti kaktus:
diam, keras, tapi menyimpan air di dalamnya.

Dan di tengah rumah kaca itu,
ada dua sosok duduk berhadapan.

Satu adalah aku.
Yang lain… adalah dia.

Dia yang pernah memelukku hanya dengan kata-kata.
Dia yang hadir lewat keheningan malam,
tapi membuat aku bertahan di siang hari.
Dia yang mengajarkanku tentang cinta,
meski aku penuh dengan trauma.

Kak Raya.

Ia tidak bicara banyak.
Tapi setiap kehadirannya seperti mengubah warna tanaman di sekitarku.
Yang tadinya hitam pekat, mulai tumbuh hijau.
Yang tadinya layu, mulai menegakkan batangnya.
“Tau gak,” katanya sambil memetik satu bunga kecil,
“Cinta itu bukan obat. Tapi cinta bisa jadi cahaya.”
“Dan trauma itu nggak harus dihilangkan. Tapi bisa diajak tumbuh.”
“Sama kayak tanaman ini... Dia tumbuh dari bekas luka bumi.”

Aku menatap wajahnya, lalu menunduk.
Masih ada rasa tidak layak di dadaku.
Karena cinta ini datang dari seseorang yang melampaui aku.
Yang tahu bagaimana menyayangi orang tuanya dengan lembut,
sementara aku masih berjarak dan berdarah dingin.
“Aku takut ngerusak kamu,” ucapku lirih.
“Tapi kamu udah mengubahku sebelum aku bisa nyentuh kamu.”

Kak Raya tersenyum.
Senyum yang tidak menghakimi, tidak menuntut.

“Kamu gak harus sembuh total buat dicintai.”
“Yang kamu perlu cuma jujur, dan gak lari.”

Tiba-tiba, tanaman-tanaman di sekitar kami mulai berubah.
Berganti warna—bukan jadi cerah, tapi menjadi lebih jujur.
Ada yang tetap berduri. Ada yang tetap gelap.
Tapi mereka tidak lagi ingin menutupi itu.

Dan mungkin itulah simbiosis trauma dan cinta.
Bukan tentang siapa menyembuhkan siapa,
tapi siapa yang mau tetap tinggal walau lukanya belum sembuh.

Aku memandang Kak Raya untuk terakhir kalinya malam itu.
Karena aku tahu, mungkin ia hanya hadir sebagai bagian dari perjalanan.
Tapi bagian yang mengubah arah seluruh hidupku.

Bukan karena ia menolong.
Tapi karena ia memeluk rasa yang bahkan aku sendiri malu untuk aku akui.
Dan sekarang, tanaman itu…
tanaman dari trauma dan cinta…
telah menjadi taman.
Taman yang menunggu waktu untuk mekar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api