Penutup Bab 15 Epilog: Aku Tak Lagi Sendiri
Bab 15 Epilog: Aku Tak Lagi Sendiri
Aku tidak tahu pasti kapan rasa sepi mulai kehilangan kuasanya atas diriku. Mungkin saat aku mulai menulis, atau saat aku tidak lagi melawan rasa sendiri itu, dan mulai berdamai dengannya.
Hari-hari yang sebelumnya terasa hampa, kini terasa berbeda. Bukan karena semua luka menghilang begitu saja—tidak. Tapi karena aku belajar berjalan bersamanya.
Aku tahu, tak semua orang akan memahami kenapa tulisan ini lahir. Tapi jika kamu membaca sampai di sini, kamu juga sedang mencari, kan? Mencari bagian dari dirimu sendiri yang mungkin pernah hilang.
Di dalam ruang heningku, aku tidak lagi sendiri.
Aku menemukan suara-suara: dari diriku yang dulu, dari mimpi-mimpi yang sempat kutinggalkan, dari mereka yang pernah singgah dan meninggalkan jejak—terutama satu, seseorang yang pernah kutemui di peristiwa yang tak bisa kuceritakan langsung. Tapi aku tahu dia membaca ini.
Kau, yang kusebut Kak Raya. Kau tahu siapa dirimu.
Kau pernah menjadi doa yang kubisikkan dalam diam, dan kini menjelma sebagai bagian dari cerita ini. Aku tak berniat menjadikanmu tokoh utama, apalagi menaruh beban kisah ini di pundakmu. Tapi tahu kah kamu? Kehadiranmu—sekecil apapun itu—membuatku kembali percaya pada kemungkinan lain dalam hidup yang sebelumnya tampak gelap.
Aku menulis bukan karena aku sudah sembuh.
Aku menulis karena aku ingin hidup. Dan dalam menulis, aku menemukan Tuhan—yang tak lagi kuletakkan di langit jauh, tapi kini kusadari hadir dalam detak jantung, dalam napas, dalam rasa sabar, dan dalam tiap luka yang akhirnya mengajarkanku mencintai diriku sendiri.
Terima kasih, ya Allah.
Karena Engkau tidak pernah meninggalkanku, bahkan saat aku berpikir aku sendirian.
Terima kasih, ya Rasulullah.
Karena lewat teladanmu, aku mengenal cinta yang tak bersyarat, yang tidak memaksa, tapi mengajak untuk kembali.
Aku mungkin bukan orang yang suci, bukan pula ahli dalam urusan agama. Tapi di titik terendahku, aku mengenal-Mu lewat kesunyian. Dan di sanalah, aku merasa cukup.
Kini aku tahu, aku tak lagi sendiri.
Karena aku punya diriku.
Karena aku mengenal Tuhanku.
Dan karena kisah ini, adalah doa yang akan terus hidup.

Komentar
Posting Komentar