Bab 7 Kereta yang Tak Pernah Sampai
Bab 7
Kereta yang Tak Pernah Sampai
Aku duduk di dalam sebuah kereta—entah menuju ke mana. Tak ada papan tujuan, tak ada suara pengumuman stasiun. Hanya derak roda besi yang mengalun seperti detak jantung yang tak pernah benar-benar tenang.
Di luar jendela, pemandangan tak berubah: langit gelap berwarna abu, hutan-hutan yang terus berulang, dan rumah-rumah tua tanpa penghuni. Wajah-wajah samar terlihat dari balik kaca—mereka bukan penumpang, tapi mungkin bayanganku sendiri. Atau mungkin kenangan yang belum pernah benar-benar turun di stasiun akhir.
Setiap kursi di kereta ini kosong. Kecuali satu, yang tepat di hadapanku:
Perempuan berbaju biru.
Ia menatapku dalam diam. Kali ini tanpa senyum, tapi juga tanpa kecewa. Hanya mata yang penuh makna, seolah menyimpan seluruh perjalanan yang pernah kulewati. Dan mungkin, perjalanan yang belum sempat aku mulai.
“Kenapa kau masih di sini?” tanyaku, suara lirih menabrak denting rel.
Ia tidak menjawab. Hanya memiringkan kepala, seperti sedang mendengarkan sesuatu dari dalam dadaku.
“Kereta ini tidak pernah sampai, bukan?” lanjutku. “Karena aku belum pernah benar-benar meninggalkan masa lalu…”
Ia memejamkan mata, lalu membuka jendela kereta. Angin malam menerobos masuk, membawa aroma luka yang tak asing. Dalam sekejap, kereta berubah—menjadi ruang bawah sadarku sendiri. Lorong-lorong yang pernah kulewati: kamar masa kecil yang terlalu sunyi, kelas SD tempat tubuh kecilku belajar rasa malu dan salah arah, tangga rumah tempat aku diam-diam berharap punya keluarga yang benar-benar utuh.
Dan tepat di ujung gerbong, aku melihat sesuatu:
Cermin.
Bukan cermin biasa. Tapi cermin yang memantulkan aku yang tidak kukenal. Wajahku tampak lebih kecil, lebih rapuh. Anak laki-laki yang masih membawa beban orang dewasa. Di balik matanya ada rasa bersalah, rasa takut untuk hidup, dan rasa rindu yang tak tahu hendak ditujukan ke siapa.
“Kereta ini hanya akan berhenti jika kau berdamai,” bisik perempuan itu.
“Berdamai dengan siapa?”
“Dengan anak di cermin itu. Dengan suara yang kau redam setiap malam. Dengan cinta yang tak pernah selesai kau doakan…”
Aku menunduk. Seluruh perjalanan ini bukan tentang mencari tempat, tapi tentang menerima bahwa tidak semua luka harus sembuh untuk bisa melangkah. Kadang, cukup untuk mengakuinya. Untuk duduk bersamanya, dalam satu gerbong sunyi.
Kereta melambat. Di kejauhan, cahaya samar mulai muncul. Entah stasiun, entah mimpi baru. Tapi aku tahu—aku harus turun.
Bukan karena perjalanan ini berakhir,
Tapi karena aku memilih untuk bertemu dengan diriku yang dulu.
Yang pernah takut, tapi tetap bertahan.
Yang pernah terluka, tapi tidak berhenti mencari arti.
Dan sebelum pintu kereta terbuka,
perempuan berbaju biru itu berbisik:
“Kau sudah lebih dekat dari yang kau kira…”

Komentar
Posting Komentar