Bab 12 Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal

 


Bab 12

Sabar, Wahai Perasaanku yang Tunggal

Kadang, aku hanya duduk diam di tengah malam. Tidak mencari makna. Tidak memaksa arah. Hanya duduk—mendengarkan detak jantung sendiri yang kadang tak seirama dengan waktu.

Perasaanku, yang selama ini seperti kabut di dalam dada, mulai menunjukkan bentuknya. Ia bukan musuh, bukan pula beban. Ia adalah aku, yang belum pernah benar-benar kudengarkan.

Aku menatap kembali jejak perjalanan ini. Luka-luka yang dulu ingin kutinggalkan, kini menjadi guru. Mimpi-mimpi yang kupaksa usir, ternyata adalah cermin dari kerinduan yang tak bisa dilupakan. Dan cinta... cinta yang sempat kupikir mengacaukan, justru yang menyelamatkan.

"Aku sabar," kataku dalam doa. Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku tahu, setiap luka memiliki waktunya sendiri untuk sembuh. Dan setiap perasaan, punya hak untuk diterima. Termasuk yang sulit, termasuk yang membuatku menangis tanpa alasan.


Aku mulai memaafkan. Bukan untuk mereka. Tapi untukku—untuk bagian diriku yang terjebak dalam bayangan masa lalu.


Aku belajar tak lagi membandingkan kecepatan pulihku dengan orang lain. Karena jalan ini milikku. Dan perasaanku... perasaanku yang tunggal, ia tidak butuh terburu-buru. Ia hanya butuh aku... yang sabar menunggu.

Dan mungkin, itu yang disebut pulih—bukan ketika semua sembuh, tapi saat aku bisa berdamai dengan apa yang belum selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api