Bab 5 – 6 Malam Doa dan Alkohol


Gue pernah takut rasa ini bikin gue salah langkah.

Dan malam itu...
gue gak jatuh karena benci.
Gue jatuh karena terlalu rindu untuk jujur.

Itu malam yang gak direncanakan.
Temen-temen SMK gue ngajak kumpul.
Udah hampir tujuh tahun gak ketemu.
Waktu itu gue ngerasa, "ah, sekalian ngobrol, ketawa, mungkin bisa ngelepas sedikit beban."

Gelas demi gelas...
gue gak niat mabuk. Gue cuma... ikut. Menghargai.
Tapi yang gue gak siap, bukan rasa alkoholnya,
tapi gelombang rasa yang muncul setelahnya.

Di tengah keramaian tawa,

gue malah keinget Kak Raya.

Bukan cuma wajahnya, tapi makna kehadirannya.


Gue merasa kayak:

“Gue gak bisa lagi pura-pura. Rasa ini harus keluar. Sekarang.”


Gue buka HP.

Gue ngetik.


Pelan-pelan.

Gak dramatis. Gak lebay.

Tapi... jujur.

Gue bilang semua:

Bahwa dia adalah bagian dari doa gue.

Bahwa rasa ini bukan sekadar suka, tapi bentuk syukur dan hormat.

Bahwa kalau Tuhan kasih kesempatan, gue mau memperjuangkan dengan cara paling bersih yang bisa gue lakukan.


Gue tahu...

gue kirim pesan itu dalam kondisi gak ideal.

Dan setelah gue pencet “kirim,”

gue duduk. Diam.

Kepala berat. Tapi dada... ringan.

Tapi beberapa menit kemudian...

rasa menyesal itu datang.

Bukan karena isi pesan. Tapi karena gue gak tahu dampaknya.


“Apa gue salah waktu?”

“Apa gue nyakitin dia tanpa sadar?”

“Apa ini akan merusak semua yang udah gue bangun?”


Gue pulang malam itu dengan kepala penuh,

tapi hati kosong.

Bukan karena cinta gue ditolak,

tapi karena gue takut kehilangan rasa hormat dia.

Malam itu... gue gak tidur.

Gue cuma duduk.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...


Gue nangis.

Tanpa suara. Tanpa gengsi.

Cuma pengakuan: bahwa gue, Arul... adalah manusia.


Bab 6 – Jawaban dari Takdir

Gue bangun pagi itu...

masih berat. Masih kacau. Masih gak tahu mau ngapain.

Tapi gue sadar: gue udah ngelangkah.

Dan langkah itu gak bisa ditarik mundur.


HP gue diem.

Hening.

Gak ada balasan.

Dan jujur aja...

di situ gue mulai bersiap untuk hal paling pahit: mungkin gak akan dibalas.

Tapi siangnya…

satu notifikasi masuk.

Pesan dari Kak Raya.


Tangan gue dingin.

Jantung gue kayak ditarik ke leher.

Gue buka pelan-pelan...


Isinya bukan marah.

Bukan kecewa.

Bukan juga harapan.

Tapi... pengertian.


"Terima kasih sudah jujur."

"Aku bangga dengan perkembangan kamu."

"Tapi aku sudah punya tunangan."


Gue diem.

Gak nangis. Gak marah.

Tapi... runtuh.

Bukan karena ditolak.

Tapi karena... gue akhirnya tahu batas.


Dan gue peluk rasa itu.

Gue gak buang.

Gue peluk.

Gue izinkan cinta itu jadi puing yang gak perlu dibangun lagi —

tapi tetap gue rawat jadi pelajaran.

Di detik itu juga...

gue sadar sesuatu:


Gue gak kehilangan dia.

Gue cuma kehilangan harapan untuk bersama.

Tapi rasa gue? Masih utuh.

Dan kini... gue simpan sebagai cahaya, bukan bayangan.


Gue balas dengan tenang.

Bukan karena gue kuat,

tapi karena gue sadar: cinta sejati gak harus menggenggam.

Cukup mengizinkan orang yang kita sayang…

untuk bahagia dengan jalannya.

Dan untuk pertama kalinya,

gue berdoa…

bukan buat memiliki,

tapi buat melepas dengan hati yang bersih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api