Aku ingin cerita sesuatu... tentang seseorang.
Dulu, ada orang yang sangat ingin kutemui. Bukan untuk sekadar kenal, tapi untuk berguru—belajar agama, belajar hidup, belajar jadi manusia yang lebih baik. Aku bahkan sudah membayangkan bagaimana nanti akan duduk di dekatnya, mendengarkan setiap nasihatnya, mencatat semua yang ia ajarkan. Tapi...
Tak sempat.
Ia pergi terlalu cepat, sebelum aku sempat membuka mulut. Saat pemakamannya, aku berdiri di antara kerumunan, mencoba menangkap segala rasa yang bertebaran di udara. Ada yang memaki diam-diam (mungkin pada takdir), ada yang tertawa kecil—bukan karena bahagia, tapi seperti upaya mengikhlaskan. Ada juga yang sibuk peduli, mengurus ini-itu, seolah ingin mengalihkan duka dengan aktivitas.
Dan aku? Aku hanya diam. Fokusku masih pada satu hal: "Aku belum sempat belajar darinya."
Tapi di situasi itu, justru aku dapat pelajaran lain—tanpa kata-kata.
Lihatlah bagaimana semua orang kehilangan. Ada yang menangis, ada yang bersyukur pernah mengenalnya, ada yang kebingungan karena "tiang" di lingkungan itu kini hilang. Ia ternyata bukan sekadar orang yang kuinginkan sebagai guru, tapi juga tumpuan harapan banyak orang. Manusia-manusia yang meletakkan ekspektasi tinggi padanya, dan ia—seperti melati yang harum—selalu memberi manfaat tanpa banyak bicara.
Lalu aku paham: "Harum yang Sedih" ini adalah tentang dia.
"Jelas-jelas ku bertahan"
Aku berusaha tegar, meski kecewa tak sempat bertemu.
"Seperti melati harum yang sedih"
Ia seperti bunga yang wanginya tetap tercium bahkan setelah layu—pengaruh baiknya masih ada, tapi kepergiannya meninggalkan duka.
"Dia telah menepi"
Ia pergi tanpa tanda-tanda, tanpa sempat kusampaikan niatku.
Pelajaran yang tak terduga?
Guru tak selalu hadir dalam bentuk yang kita mau. Kadang, ia mengajar lewat kepergiannya—tentang betapa berharganya waktu, tentang bagaimana manusia melekat pada harapan, dan tentang ikhlas.
Ekspektasi itu seperti aroma bunga. Bisa harum, tapi juga bisa membuat sedih ketika sumbernya tak lagi ada.
Jadi, lagu ini bukan hanya untuknya. Ini juga untukku—dan untuk kalian yang pernah kehilangan seseorang sebelum sempat mengatakan sesuatu.
"Kau takkan kembali, tapi pelajaranmu tetap hidup."
Aku rasa, itu cukup untuk sebuah perpisahan.
Komentar
Posting Komentar