Bab 3 — 4 Cinta yang Tidak Direncanakan


Gue pikir, hidup cuma ngasih gue cukup...

cukup untuk sekolah, cukup untuk makan, cukup untuk gak ngerasa hancur.
Tapi ternyata...
Tuhan masih punya ruang di hati gue buat sesuatu yang lebih halus.
Sesederhana rasa kagum yang berubah arah.

Gue gak tahu kapan tepatnya perasaan itu mulai tumbuh.
Awalnya cuma rasa hormat.
Lama-lama... ada rasa yang bikin gue nunggu pelajaran Kak Raya.
Ada rasa yang bikin gue pengen dilihat, tapi bukan buat pamer.

Pengen dihargai… karena gue sedang berubah.


Gue mulai lebih sadar sama hal kecil:

Cara dia ngomong. Cara dia merhatiin murid satu-satu.

Cara dia nyimpen senyum — kadang ke semua orang, tapi kadang… gue ngerasa itu buat gue.


Dan itulah masalahnya.


Rasa ini gak direncanakan.

Gak diniatin. Gak dicari.

Tapi tiba-tiba… tumbuh.

Gue mulai ngelakuin hal-hal kecil:


Nulis lirik lagu dan nge-post di Instagram.


Nge-like story Kak Raya.


Kadang sengaja ngode lewat lagu yang gue share — kayak nyoba ngomong tanpa kata-kata.

Tapi semuanya gue simpan sendiri.

Gue takut terlalu berharap. Tapi gue juga takut… kehilangan arah lagi.


Sampai satu malam…

Gue mulai berdoa lagi — kali ini bukan cuma minta hidup.

Tapi minta dipertemukan dengan orang yang bisa gue jaga.


Dan... gue sebut namanya di doa itu.

Gue tau, ini gila.

Gue tau, dia guru. Dan mungkin aja dia gak mikir sama sekali ke arah itu.

Tapi... lo tau gak bro?


Cinta yang tulus gak butuh alasan logis.

Yang penting dia lahir di tempat yang benar —

di hati yang gak lagi gelap.


Dan di tengah semua ketidakpastian itu,

gue gak pernah mikir buat ngungkapin langsung.

Gue cuma mau jaga rasa itu pelan-pelan.

Gue bilang ke diri sendiri:


“Gue gak butuh dia jadi milik gue.

Gue cuma butuh dia tau… bahwa karena dia, gue mulai hidup lagi.”


Dan untuk saat itu,

itu cukup.


Bab 4 — Antara Takut dan Harap

Ada masa dalam hidup, di mana lo sadar:

"Rasa ini gak bisa gue simpan selamanya,

tapi juga gak bisa gue ungkap seenaknya."


Dan gue... tepat di tengah masa itu.


Gue mulai gelisah.

Gue mulai baca ulang semua sinyal kecil.

Like story. Balas kode lagu. Senyum balik. Tatapan mata.

Apakah gue terlalu berharap? Atau emang ini bukan halusinasi?


Tiap kali gue lihat Kak Raya di depan kelas,

gue ngerasa dia makin bersinar. Tapi bersamaan dengan itu...

gue ngerasa jarak gue ke dia makin jauh.

Gue mulai sadar diri:

Gue murid. Dia guru.

Gue masih berjuang hidup. Dia mungkin udah punya hidup yang jelas.

Gue cuma seseorang yang sedang mencoba jadi manusia seutuhnya.

Dan dia…

dia cahaya yang Tuhan kirim, mungkin cuma buat nyalain gue — bukan untuk gue miliki.

Gue sempat mau berhenti.

Mau matiin rasa.

Tapi tiap gue coba, malah makin dalam.


Karena tiap malam gue masih berdoa,

bukan minta jadian,

tapi minta “biar dia tahu, bahwa rasa ini ada dan tulus.”

Gue gak pengen jadi pengganggu.

Tapi juga gak sanggup pura-pura gak ngerasa apa-apa.


Ada satu waktu, gue sampe bilang ke Tuhan:


"Kalau ini cinta yang salah, tolong cabut aja dari hati gue.

Tapi kalau ini cinta yang suci, tolong bimbing gue untuk menghadapinya dengan cara yang Engkau ridhoi."

Gue takut.

Gue harap.

Dan gue terus diam —

karena di saat itu, diam adalah satu-satunya cara gue menghormati dia… dan rasa gue sendiri.


Tapi lo tau bro?

Diam itu lama-lama jadi beban.

Dan gue mulai sadar: sekuat-kuatnya gue nahan,

ada satu titik di mana hati minta bicara.


Dan saat titik itu datang…

gue gak akan bisa lagi bohongin diri.


Tinggal tunggu waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api