Bab 11 Pasien dari Perasaan Sendiri


Bab 11 Pasien dari Perasaan Sendiri

Ada masa di mana aku merasa, aku adalah satu-satunya pasien di ruang praktik yang kubuat sendiri.
Dokternya juga aku. Penontonnya juga aku. Yang sakit dan yang menyembuhkan, semua aku.
Dan itulah masalahnya.

Aku gak pernah benar-benar tahu, mana luka yang harus dibedah, mana yang cukup disapu pelan dengan sabar.

Aku terlalu sibuk mencari siapa yang salah, sampai lupa memeluk yang terluka.

Terlalu sibuk mengira-ngira apa yang orang pikirkan,

sampai lupa mendengar suara perasaanku sendiri yang memohon:

"Cukup. Istirahat dulu sebentar."


Kadang aku bahkan merasa bersalah hanya karena merasa.

Merasa terlalu sensitif. Terlalu dalam. Terlalu terhubung dengan sesuatu yang bahkan gak bisa dijelaskan.

Dan akhirnya... aku merasa lelah.

Tapi perlahan, aku mulai mengerti:

Perasaan ini bukan musuhku.

Ia bukan hantu yang harus kuusir.

Bukan penyakit yang harus kucari obatnya.


Ia cuma ingin didengarkan.

Dipeluk. Diterima.

Ia cuma ingin tahu bahwa kehadirannya gak sia-sia.

Bahwa menangis di malam hari bukanlah kelemahan,

bahwa ketidakpastian bukanlah kutukan.

Aku sadar…

Mungkin aku akan selalu menjadi pasien dari perasaanku sendiri.

Tapi tidak apa-apa.

Selama aku bisa menjadi tempat yang aman untuk luka itu pulang,

aku tahu — aku gak gagal.


Aku masih berproses. Masih jatuh. Masih belajar memaafkan.


Dan jika harus terus menjadi pasien seumur hidupku,

aku siap.

Asal aku gak harus sendirian lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api