Bab 4 Mimpi yang Menolak Pergi

Bab 4  Mimpi yang Menolak Pergi



Malam itu, aku bermimpi lagi.

Mimpi yang sama.

Tempatnya selalu gelap, tapi bukan gelap yang menyeramkan—lebih seperti kosong.
Tak ada langit, tak ada tanah.
Hanya aku, berdiri di antara sesuatu yang tak bisa kupahami.

Lalu ada suara.

Pelan. Tak jelas, tapi familiar.

Kadang suara itu memanggil namaku, kadang hanya diam menatapku dari jauh.

Tapi yang membuatku gelisah bukan suara itu.

Yang membuatku terbangun dengan napas tersengal adalah kenyataan bahwa aku selalu tahu ini mimpi… tapi aku tidak bisa bangun.


Aku pernah berpikir ini hanya bunga tidur.

Tapi mimpi ini muncul lagi, lagi, dan lagi.

Seperti ada pesan yang belum selesai disampaikan.

Seperti luka yang menolak ditutup.


Mimpi ini bukan sekadar mimpi.

Ini adalah pengingat, atau mungkin lebih tepatnya: alarm dari rasa yang tak selesai.

"Kenapa kau masih di sini?"


Suara itu bertanya, tapi tak pernah menuntut.

Ia tidak marah. Ia hanya… menunggu aku sadar.


Aku sering terlihat normal di siang hari.

Tersenyum, berbincang, berfungsi.

Tapi malam?

Malam adalah saat aku menjadi aku yang sesungguhnya.

Yang terluka.

Yang kosong.

Yang tidak bisa berpura-pura lagi.

Mimpi ini seperti cermin.

Menunjukkan bagian-bagian dari diriku yang tak berani aku sentuh saat sadar.

Ingatan tentang masa kecil, kehilangan yang kupendam, rasa malu yang belum selesai, dan keinginan untuk dimengerti yang kupaksakan untuk mati.


"Apa yang kau cari di mimpi itu?"

“Seseorang.”

“Siapa?”


“Entah. Mungkin aku sendiri yang pernah bahagia.”

Dalam mimpi itu, aku melihat versi diriku yang lain.

Ia lebih muda. Lebih polos. Lebih jujur.

Ia tidak takut mengakui rasa, tidak malu menangis.

Tapi setiap kali aku mendekat, ia menjauh.

Seperti bayangan, seperti ingatan yang terlalu sakit untuk dipeluk.


“Kenapa kau menjauh?”

“Karena kau tak pernah benar-benar menerima aku.”

“Aku takut. Aku gak tahu caranya.”

“Tapi kau terus mencariku, kan?”

Aku terbangun.

Basah. Keringat dingin.

Kamar gelap.

Jam menunjukkan pukul 03:14.


Aku duduk di ranjang, memeluk lutut, dan sadar…

Mimpi ini bukan kutukan.

Tapi panggilan.

Dari bagian terdalam diriku yang ingin sembuh, tapi tak tahu harus mulai dari mana.


Setiap mimpi adalah potongan puzzle.

Potongan dari rasa yang terlalu lama dikubur.

Dan meskipun menyakitkan, aku mulai paham:

Mimpi ini menolak pergi bukan karena ingin menyiksaku.

Tapi karena ia adalah bagian dari penyembuhan yang tertunda.


Kadang aku merasa mimpi itu seperti rumah.

Bukan karena nyaman. Tapi karena di sanalah aku bertemu dengan diriku yang jujur.

Diriku yang menangis tanpa malu.

Diriku yang mengaku lelah tanpa takut dianggap lemah.

Diriku yang hanya ingin dipeluk, bukan dinasihati.


Dan pelan-pelan, aku belajar...

Bahwa mimpi yang menolak pergi itu mungkin akan selalu datang.

Tapi sekarang, aku tidak akan lari.

Aku akan menemuinya. Duduk bersamanya.

Mendengarkannya.

Sampai ia tak lagi perlu mengetuk pintu malam hanya untuk membuatku sadar,

bahwa yang paling ingin kudengar… adalah suara hatiku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api