Bab 13 Yang Tumbuh dari Perih


Bab 13 Yang Tumbuh dari Perih

 Ada rasa sakit yang tak bisa langsung hilang. Tapi dari sana, sesuatu perlahan tumbuh. Bukan hanya luka yang menganga, tapi juga kesadaran… bahwa aku pernah bertahan di antara serpihan diriku sendiri.


Perih, ternyata tak selalu jadi akhir dari segalanya. Ia bisa menjadi lahan yang subur, tempat benih-benih pengertian mulai berakar. Di saat orang lain menghindari rasa sakit, aku belajar duduk bersamanya. Memandangnya tepat di mata. Membiarkannya bercerita, tanpa aku buru-buru menutup telinga.

Yang tumbuh dari perih bukan hanya ketabahan, tapi kepekaan. Aku jadi tahu caranya memahami diam orang lain. Aku jadi bisa merasakan retakan kecil di balik senyum seseorang. Karena aku pernah tinggal di sana. Di ruang yang hening tapi penuh sesak. Di perasaan yang tak bisa dijelaskan tapi nyata membekas.


Dan ketika waktu berjalan, aku sadar… ternyata aku masih hidup. Masih bisa merasa. Masih bisa mencintai, walau dulu aku berpikir hati ini sudah mati.


Perih itu membentukku, bukan menghancurkanku.


Mungkin, itu adalah bentuk cinta paling jujur dari semesta—mengizinkanku merasakan semuanya, agar aku tahu betapa berharganya tiap rasa yang masih bisa aku dekap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api