Bagian 3 Pemahaman dan Penerimaan, Bab 10 Sebelum Aku Sembuh, Aku Harus Tahu Siapa Aku


Bab 10 – Sebelum Aku Sembuh, Aku Harus Tahu Siapa Aku

Malam itu, aku duduk sendirian.
Tanpa mimpi yang berbisik, tanpa bayangan ayah yang menghantui, tanpa kereta yang tertunda.
Hanya aku, dengan suara-suara kecil yang selama ini kuabaikan.

Aku menyadari satu hal:
Sebelum aku sembuh, aku harus tahu siapa aku sebenarnya.
Bukan dari luka-luka yang kuterima, bukan dari cinta yang hilang, dan bukan dari doa-doa yang tak sempat selesai kupanjatkan.
Tapi dari diriku sendiri — yang berdiri tanpa nama, tapi penuh makna.

Aku mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah selesai:

Kenapa aku selalu merasa tertinggal?

Kenapa aku mengikat diriku pada seseorang yang belum tentu ingin tinggal?

Kenapa aku merasa cinta adalah satu-satunya alasan untuk hidup?

Aku ingat Kak Raya.

Cinta yang begitu sederhana, tapi mampu membongkar seluruh tembok yang kubangun selama bertahun-tahun.

Dialah yang membuatku bertanya,

"Apa yang membuatku hidup kembali setelah semua rasa ingin mati?"

Mungkin jawabannya bukan dia. Tapi cinta yang muncul karena dia.

Cinta yang jujur. Cinta yang gak kuharapkan, tapi justru menyelamatkan.

Aku jadi tahu...

Bahwa aku pernah kecil dan hanya ingin dipeluk,

Bahwa aku pernah marah pada ayah, bukan karena benci, tapi karena ingin didengar,

Bahwa aku gak perlu jadi sempurna untuk dicintai,

Dan bahwa...

Aku juga berhak sembuh.


Bukan karena dunia memintaku untuk kuat,

Tapi karena aku ingin tahu, bagaimana rasanya hidup tanpa terus menyalahkan diri sendiri.


Dan malam itu,

Untuk pertama kalinya, aku berani bilang:

“Namaku... adalah Aku.”

Yang penuh dengan rasa.

Yang sedang mencoba memahami semua kehilangan,

Tanpa harus membuang siapa pun dari ingatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api