Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu
Bab 3 - Suara dari Ruang Tunggu
Aku duduk di sebuah ruang yang tak bernama.
Dindingnya abu-abu, kursinya dingin, dan waktu terasa seperti uap: ada, tapi tak bisa digenggam. Tak ada jam di sini, tak ada jendela, dan deretan pintu di depanku selalu tertutup rapat.
Setiap kali aku coba mengetuk, tak ada yang menjawab. Kadang terdengar sesuatu dari balik pintu, tapi tak pernah jelas—seperti bisikan atau gema dari masa lalu.
Di ruang tunggu ini, aku sendirian.
Tapi… aku tidak benar-benar sendiri.
Ada sesuatu di dalam diriku yang terus berbicara.
Bukan pikiran, tapi tubuhku. Bukan suara, tapi getaran.
“Sakit ini bukan karena penyakit.”
“Ini karena kau terlalu sering diam saat harusnya bicara.”
Leherku kaku. Dada sesak. Nafas berat.
Rasanya seperti tubuhku menyimpan rahasia yang sudah terlalu lama terkunci, dan kini ia marah karena aku terus memaksanya diam.
Di seberang ruangan, duduk seseorang yang sangat aku kenal.
Ia seperti aku, tapi tak sama.
Ia adalah bayangan dari rasa yang tak bisa aku jelaskan.
Matanya kosong tapi dalam, wajahnya pucat, dan ada luka kecil di bawah matanya—seperti bekas menangis yang tak pernah sempat dibersihkan.
“Kau tahu kenapa aku muncul, kan?”
Aku mengangguk. Tapi tak menjawab.
Sebab jika aku berbicara, itu berarti aku harus jujur.
Dan kejujuran itu menakutkan.
Aku mulai menyadari...
Selama ini aku bukan sedang menunggu seseorang.
Tapi sedang duduk bersama sisi terdalam diriku sendiri.
Sisi yang aku tolak selama ini. Sisi yang aku bungkam dengan tawa palsu dan cerita-cerita yang membuatku terlihat baik-baik saja.
Aku ingat saat tubuhku pertama kali mulai "berbicara".
Detak jantung yang tiba-tiba cepat.
Tangan yang berkeringat tanpa alasan.
Pikiran yang kabur, seperti tertutup kabut.
Itu bukan penyakit. Itu alarm.
Tubuhku sedang memberontak karena aku terus menyangkal rasa.
“Kau kelihatan kuat dari luar, tapi di dalammu seperti reruntuhan kota.”
“Kau ingin didengar, tapi terus menutup diri.”
“Kau bilang tak apa-apa, padahal hatimu sudah nyaris tenggelam.”
Di ruang tunggu ini, semua yang kutekan naik ke permukaan.
Kenangan akan malam-malam ketika aku tertawa di depan orang, tapi menangis di kamar mandi.
Hari-hari saat aku bilang "capek kerja", padahal aku lelah jadi manusia.
Waktu-waktu saat aku menghindar, bukan karena tak peduli, tapi karena takut dianggap lemah.
Dan satu suara paling nyaring dari semua itu adalah ini:
“Kalau semua orang hanya tahu dirimu dari kulit luar, siapa yang akan melihat luka di dalam?”
“Kau yang harus lihat. Bukan mereka.”
Aku tak tahu sudah berapa lama duduk di sini.
Waktu berhenti jadi ukuran.
Yang ada hanya proses.
Proses menerima bahwa aku rapuh.
Bahwa aku berhak merasa lelah.
Bahwa aku boleh gagal tanpa merasa malu.
Bahwa di balik tubuh yang terlihat "oke", ada seseorang yang sedang mencari arah pulang.
Lalu ada bunyi kecil di ujung ruangan.
Sebuah pintu terbuka perlahan.
Dari sana, cahaya masuk—tak terang, tapi cukup untuk kulihat sesuatu.
Bukan sosok orang. Bukan suara. Tapi perasaan.
Harapan.
Ia tidak datang menjemput.
Ia menunggu.
Menunggu sampai aku cukup jujur untuk berkata: "Aku butuh waktu. Tapi aku ingin sembuh."
Dan mungkin… di ruang tunggu ini, itulah langkah pertama.

Komentar
Posting Komentar