Bab 7 — 8 Melepaskan dengan Doa
Setelah membaca pesan itu, gue gak langsung hancur. Gak ada dramatisasi. Yang ada cuma... diam. Gue buka jendela kamar. Langit sore itu tenang. Dan di dalam diri gue, ada yang pelan-pelan berubah bentuk. Rasa itu masih ada. Tapi gak lagi berontak. Gak lagi minta dipahami. Dia jadi doa. Bukan doa untuk minta bersama. Tapi doa agar dia bahagia. Doa agar gue kuat. Dan doa agar cinta ini... tetap murni meskipun gak tersambut. Hari-hari setelahnya gue isi dengan lagu. Bukan buat viral. Bukan buat nunjukin rasa. Tapi buat menjaga api kecil yang dulu dia nyalakan — biar gak mati, meskipun gak lagi dia tiup. Lagu “Muliakan Cinta” dan “Di Keabadian” lahir bukan karena gue pengen dikenang, tapi karena gue gak bisa bohongin cinta yang pernah hadir dan bikin gue pulih. Setiap liriknya, adalah bentuk dari rasa yang udah gak minta balasan... tapi tetap ingin dikenang sebagai hal yang suci. Gue mulai posting pelan-pelan. Gak banyak kata. Gak kode lagi. Cuma simbol. Cuma aura. Dan diam-diam g...