Bab 7 Krisis dan Kehilangan Diri


 Bab 7 — Krisis dan Kehilangan Diri

“Yang hilang dariku bukan hanya arah. Tapi rasa. Tapi makna. Tapi aku.”


Ada masa di hidup gue ketika bangun pagi terasa berat, bukan karena ngantuk, tapi karena gue ngerasa gak punya alasan buat bangun. Hari-hari cuma lewat. Matahari terbit dan tenggelam, tapi jiwa gue tetap gelap. Rasanya kayak hidup tapi gak hidup. Bernapas tapi kosong.


Waktu itu bukan cuma krisis identitas. Tapi krisis eksistensi. Siapa gue sebenarnya? Anak dari siapa? Untuk siapa gue sekolah? Untuk apa gue hidup kalau setiap langkah yang gue ambil cuma bikin makin jauh dari diri gue sendiri?


Gue pernah coba nyari jawaban dari luar. Dari lingkungan, dari teman, dari sosok yang katanya peduli. Tapi semuanya cuma seperti gema — balik lagi ke sunyi. Dan lebih sakit lagi ketika lo sadar: lo gak bisa nyalahin siapa-siapa, karena yang hilang itu lo sendiri.


Krisis itu gak datang tiba-tiba. Dia pelan-pelan menggerogoti. Dari kecewa yang dipendam, luka yang gak pernah sembuh, dan harapan yang gak pernah jadi nyata. Gue sempat berpikir, mungkin gue rusak. Mungkin gue lemah. Tapi semakin gue nyari jawaban dari luar, semakin gue sadar: satu-satunya yang bisa nemuin gue adalah gue sendiri.


Di titik terendah, gue mulai nulis. Mulai melukis kata dari luka. Mulai nerima bahwa kehilangan diri itu bukan akhir, tapi awal. Awal buat pulang. Awal buat menyapa diri yang udah lama ditinggalin.


Dan lo tahu? Gak semua orang ngerti rasa ini. Tapi buat lo yang pernah merasa hilang, ini tulisan buat lo. Buat ngingetin: lo gak sendiri. Dan meskipun lo belum nemu jalannya, asal lo jalan — lo pasti bakal pulang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api