Bab 6 Pendidikan dalam Gelap


 Bab 6 — Pendidikan dalam Gelap

“Sekolah seharusnya menjadi tempat cahaya. Tapi bagi sebagian dari kami, itu hanya ruang gelap yang penuh tuntutan tanpa lentera arah.”


Aku pernah duduk diam di pojok kelas. Melihat papan tulis seperti jendela kosong. Suara guru hanya masuk telinga kanan dan keluar dari kiri. Bukan karena aku bodoh. Tapi karena aku lelah. Karena aku tahu, di balik seragam dan cat tembok sekolah itu, hidupku tak pernah benar-benar mulai.


Pendidikan—di atas kertas—adalah janji perubahan. Tapi dalam kenyataan, tak semua anak mendapatkan cahaya dari janji itu. Banyak yang cuma berjalan mengikuti arus, tanpa benar-benar paham kenapa mereka harus belajar. Sistem yang dibangun tak memberi ruang pada keunikan. Semua dipaksa sama rata. Padahal tanah tempat kami bertumbuh, tak pernah sama.


Aku dulu merasa sekolah adalah tempat aku dikurung. Bukan dibebaskan. Aku ingin bicara soal luka, tentang kehilangan, tentang kepercayaan yang goyah—tapi siapa yang mau dengar? Guru? Teman? Orang tua? Mereka sibuk dengan buku, nilai, prestasi, dan target-target.


Dan akhirnya, aku pun jadi mesin. Menghafal tanpa makna. Menyelesaikan soal tanpa mengerti. Merasa gagal bukan karena aku tak bisa, tapi karena aku tak sanggup berpura-pura kuat setiap hari. Pendidikan dalam gelap bukan cuma soal minimnya fasilitas atau kurikulum yang usang. Tapi tentang jiwa yang tidak disentuh. Tentang anak-anak yang tak pernah diajak bicara sebagai manusia.


Pernah suatu kali aku berani jujur—bilang aku ingin berhenti sekolah karena merasa hampa. Tapi yang kudapat hanyalah nasihat usang dan kemarahan. Seolah aku salah hanya karena ingin dimengerti.


Buku pelajaran tak pernah mencatat cerita seperti punyaku. Tak pernah menulis tentang anak-anak yang kehilangan motivasi bukan karena malas, tapi karena realitas lebih kejam dari soal ujian.


Hari ini aku menulis ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Tapi untuk bersaksi—bahwa pendidikan kita masih buta terhadap rasa. 

Bahwa masih banyak yang belajar dalam gelap, berjalan sendiri tanpa lentera, dan akhirnya tumbang sebelum garis akhir.


Dan semoga tulisan ini bisa jadi cahaya kecil bagi mereka yang pernah merasa sendiri dalam kelas yang ramai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api