Bab 2 Sistem yang Menyisakan


 Bab 2 — Sistem yang Menyisakan

Aku pernah berpikir, apakah dunia ini memang hanya milik mereka yang bisa menyesuaikan diri—atau hanya milik mereka yang kebetulan cocok dengan sistem yang sudah lama dibuat sebelum mereka lahir?


Di bangku sekolah, kami diajarkan untuk seragam. Diberi nilai dari angka, ditakar dari ketepatan menjawab, bukan dari keberanian bertanya. Mereka menyebut itu pendidikan. Tapi yang kurasakan lebih seperti penyaringan: siapa yang bisa bertahan dan siapa yang harus disisihkan pelan-pelan.


Aku tidak bodoh. Aku hanya tidak cocok. Tapi di sistem ini, itu cukup untuk membuatmu dicap gagal.


“Kenapa kamu gak bisa kayak anak lain?”


Kalimat itu terlalu sering kudengar. Dari guru, dari orang tua, dari orang-orang yang bahkan tak mengenalku. Tapi bagaimana bisa aku jadi seperti "anak lain" kalau hatiku tak bisa dipaksa? Kalau aku tumbuh di tempat yang menekanku, bukan menumbuhkanku?


Sistem itu seperti mesin. Jika kamu tak sesuai ukuran bautnya, kamu dianggap rusak.


Dan mesin itu terus berputar. Menyisakan anak-anak yang seharusnya hanya perlu dirangkul, bukan disingkirkan.


Aku tahu rasanya ditinggal.


Bukan hanya oleh orang-orang, tapi juga oleh sistem yang seharusnya mengayomi. Sekolah menjadi tempat aku belajar menyembunyikan diri, bukan berkembang. Di kelas, aku belajar untuk diam, bukan bertanya. Di rumah, aku belajar untuk menerima, bukan bicara.


Ketika aku jatuh, sistem tidak pernah memeluk. Ia hanya mencatat dan menghakimi.


“Harusnya kamu tahu diri.”


Kalimat itu menyakitkan karena bukan hanya berkata, tapi juga menyuruhku berhenti bermimpi. Sistem ini menyisakan kami yang dianggap ‘tidak mampu’ dan memaksa kami merasa tidak layak. Tapi yang sebenarnya rusak bukan kami. Sistemnya yang cacat.


Kami yang tidak naik kelas. Kami yang keluar dari sekolah. Kami yang memilih Paket C karena satu-satunya pilihan yang masih ada. Kami yang tidak cocok dengan cara lama, tapi juga tak punya tempat di dunia baru. Kami yang menyimpan luka itu dalam diam.


Tapi dari sisa-sisa itu, ada bara yang tertinggal.


Dari tempat yang paling gelap, dari ruang-ruang kosong yang ditinggalkan sistem, tumbuh benih keberanian. Aku belajar untuk merawat nyalaku sendiri. Belajar dari jalanan, dari kegagalan, dari rasa malu, dari penolakan, dari semua yang katanya membuatku ‘tidak berhasil’.


Tapi justru di situlah aku tahu siapa aku sebenarnya.


Sistem mungkin menyisakan kami. Tapi kami adalah yang tersisa dan menyala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api