Bab 5 Guru sebagai Lilin di Tengah Badai

 


Bab 5 — Guru sebagai Lilin di Tengah Badai

Gue inget satu hal yang masih nyala sampai sekarang —bukan nilai rapor, bukan ijazah, tapi satu dua wajah guru yang pernah nerangin pelajaran...

dengan hati, bukan cuma pakai mulut.


Gue gak tumbuh di sistem pendidikan yang ideal. Banyak guru datang cuma buat menggugurkan kewajiban. Tapi ada juga segelintir dari mereka yang hadir kayak lilin: kecil, tapi mampu menerangi sudut paling gelap dari murid yang hampir padam harapannya.


Ada guru yang cuma ngajarin pelajaran.

Tapi ada juga guru yang ngajarin tentang hidup.


Waktu gue udah mulai ngerasa gak mampu, gak pantas, dan pengen nyerah,

datang satu sosok — yang gak bilang banyak, tapi cara dia melihat gue aja udah bikin gue merasa berarti.


Gue inget, waktu gue udah mulai males sekolah,

ada satu guru yang gak banyak tanya, tapi dia taruh bukunya di meja gue.

Dia bilang:


“Gak semua hal bisa lo lawan sendiri, tapi jangan biarin dunia matiin cahaya dalam diri lo.”


Kalimat itu nancep. Bukan karena puitis, tapi karena disampaikan di waktu yang tepat, sama orang yang gak punya kepentingan selain biar gue gak ilang arah.


Guru kayak gitu langka.

Tapi sekali lo ketemu, efeknya bisa seumur hidup.


Mereka bukan cuma pengajar, tapi saksi.

Saksi dari anak-anak yang diam-diam lagi hancur, tapi tetap datang ke sekolah.

Saksi dari remaja yang nulis puisi di belakang buku matematika cuma biar bisa sembuh sedikit dari luka-luka yang gak bisa diceritain.


Gue sadar, kadang kita berharap sistem bisa berubah.

Tapi kadang, yang kita butuh cuma satu lilin kecil yang nyala —

cukup untuk nerangin jalan keluar dari gelapnya pikiran sendiri.


Terima kasih untuk guru-guru yang gak pernah masuk headline berita.

Yang gak viral, gak trending,

tapi pernah jadi satu-satunya alasan muridnya masih bertahan hari itu.


Mereka bukan pahlawan di buku sejarah,

tapi mereka pahlawan di hidup gue.


Kalau lo punya satu guru yang pernah nyelametin lo dari tenggelam,

datangi mereka, ucapkan terima kasih.


Atau kalau gak bisa — tulis cerita ini.

Karena cara kita membalas mereka,

adalah dengan gak pernah melupakan nyala kecil yang pernah mereka beri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api