Bab 7 Kereta yang Tak Pernah Sampai
Bab 7 Kereta yang Tak Pernah Sampai Aku duduk di dalam sebuah kereta—entah menuju ke mana. Tak ada papan tujuan, tak ada suara pengumuman stasiun. Hanya derak roda besi yang mengalun seperti detak jantung yang tak pernah benar-benar tenang. Di luar jendela, pemandangan tak berubah: langit gelap berwarna abu, hutan-hutan yang terus berulang, dan rumah-rumah tua tanpa penghuni. Wajah-wajah samar terlihat dari balik kaca—mereka bukan penumpang, tapi mungkin bayanganku sendiri. Atau mungkin kenangan yang belum pernah benar-benar turun di stasiun akhir. Setiap kursi di kereta ini kosong. Kecuali satu, yang tepat di hadapanku: Perempuan berbaju biru. Ia menatapku dalam diam. Kali ini tanpa senyum, tapi juga tanpa kecewa. Hanya mata yang penuh makna, seolah menyimpan seluruh perjalanan yang pernah kulewati. Dan mungkin, perjalanan yang belum sempat aku mulai. “Kenapa kau masih di sini?” tanyaku, suara lirih menabrak denting rel. Ia tidak menjawab. Hanya memiringkan kepala, seperti sed...