Prolog – Saat Langit Menulis
Malam itu, langit terasa sangat dekat.
Bintang-bintang seolah berhenti di udara, dan ada sesuatu di dadaku yang ikut bergetar—sebuah rasa yang sulit dijelaskan, tapi jelas terasa hidup di dalam diri.
Seakan semesta sedang menatap ke satu titik yang sama—dan di titik itu, kesadaranku perlahan terbangun.
Aku mulai memahami bahwa perjumpaan itu bukan sekadar peristiwa, melainkan panggilan untuk mengingat.
Manusia sering menunggu tanda besar, padahal tanda itu sudah lama ada—tersimpan di dalam diri, di balik rasa yang halus tapi nyata.
Aku menulis agar mereka bisa ikut menyaksikan, bahwa ada ruang di antara manusia dan langit yang bisa disentuh oleh siapa pun yang mau diam sejenak dan mendengar.
Karena setiap cahaya yang turun dari langit tidak pernah berhenti pada satu orang saja. Ia berpindah dari satu jiwa ke jiwa lain, seperti nyala lilin yang saling menyalakan.
Apa yang kualami mungkin tak sepenuhnya bisa dijelaskan, dan tidak semua harus dimaknai sebagai sesuatu yang istimewa. Namun dari setiap peristiwa, aku belajar satu hal—bahwa hidup selalu memberi arah bagi siapa pun yang mau kembali.
Jika ada cahaya yang terasa, maka semoga itu bukan sekadar rasa, melainkan pengingat untuk melangkah dengan lebih tenang, lebih jujur, dan tetap berpijak pada jalan yang benar.
Komentar
Posting Komentar