🕊️ Bab 15 Manifest My Angel: Ruang Iman dan Harapan

Ada saat dalam hidupku, di mana langit serasa tidak ada.

Doa hanya gema di dalam kepala,
dan aku pun tak yakin,
apakah ada yang mendengarkan.

Semua cara sudah kujalani.
Kuhampiri segala nama,
kutempuh segala arah.
Tapi jalan itu seperti labirin,
yang membawaku kembali ke satu titik:
diriku yang kosong.

Tapi justru dari kekosongan itulah,
aku mulai mendengar suara yang bukan suara.
Yang tidak datang dari luar,
tapi dari dalam:
halus, tapi menembus.
Lembut, tapi menggetarkan.

Seseorang — atau sesuatu — seolah bertanya:

"Apa kamu lupa, kamu punya siapa?"
"Apa kamu lupa siapa Nabi yang telah berjuang untukmu di akhir zaman?"

Dan saat itu, aku tidak menangis.
Aku hening.
Karena aku tahu:
aku sedang diingatkan, bukan dihukum.


"My Angel", buatku, bukan makhluk bersayap.
Dia bisa jadi bagian terdalam dari diriku yang selama ini diam.
Yang sudah lama terkubur oleh luka, ambisi, dan kegagalan.

Tapi dia tetap menunggu.
Diam-diam menjagaku dari dalam.
Sampai aku siap untuk kembali.

Dan ketika aku mulai mendengar lagi,
melihat lagi,
merasakan lagi...
dia muncul.

Bukan untuk menyelamatkanku.
Tapi untuk mengembalikanku.

Ke arah.
Ke cahaya.
Ke iman.


Iman itu aneh.
Kadang kita pikir ia harus besar dan berapi.
Padahal, kadang ia hanya setipis napas,
setenang sunyi,
dan sekecil keyakinan bahwa pagi akan datang —
meski malam masih gelap.

Aku tidak lagi memaksa dunia untuk masuk akal.
Aku tidak lagi meminta doa-doaku dikabulkan dengan cara yang kuinginkan.
Aku hanya ingin hadir.
Dalam iman yang tak lagi kaku.
Dalam harapan yang tidak bergantung pada hasil.


Aku tidak menunggu keajaiban,
tapi aku belajar mengenali yang kecil sebagai pertanda.
Setiap langkah, setiap detak,
bisa jadi bisikan dari-Nya.

Dan di ruang sunyi itu,
aku tahu:
aku tidak sendiri.

Harapan bukan lagi soal “nanti jadi apa”.
Tapi tentang bisa tetap hidup dengan jujur hari ini.
Tentang bisa tetap merasakan cinta,
meski hati pernah hancur.

Tentang bisa berkata pada diri sendiri:

"Aku masih di sini, dan itu cukup."


Manifest My Angel,
adalah proses membebaskan diriku
dari versi yang dibuat-buat oleh dunia.

Dan membiarkan versi yang dijaga oleh langit
akhirnya muncul.

Bukan sempurna.
Tapi nyata.

Bukan tanpa luka.
Tapi penuh makna.


Ruang iman dan harapan itu bukan tempat yang terang.
Tapi tempat yang hangat.
Tempat di mana kamu bisa pulang
tanpa harus berpura-pura lagi.

Dan saat aku masuk ke dalamnya,
aku sadar:
aku tidak perlu jadi siapa-siapa untuk dicintai Tuhan.

Cukup jadi aku.
Yang pernah jatuh.
Pernah hampa.
Tapi tidak menyerah untuk pulang.


"Kepada mereka yang masih menyala diam-diam di tengah gelap:
kau tidak sendiri.
Ada malaikat dalam dirimu yang sedang menuntun pulang."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api