Bab 11 Kemanusiaan di Era Citra

 Bab 11 – Kemanusiaan di Era Citra

Sebelum semua ini dimulai, sebelum aku menulis satu huruf pun tentang “Manifest”, aku pernah bertanya pada diriku sendiri:

Haruskah aku menjadi seperti mereka agar bisa diterima?

Aku melihat dunia yang tak pernah benar-benar menyukai keaslian. Dunia yang lebih mudah memeluk citra daripada luka. Lebih suka tampilan daripada kedalaman. Maka aku pun berjalan ke arah sebaliknya—aku mencoba menjadi seperti mereka, meski tahu itu bukan aku.

Aku hidup di dalam paradoks.

Tulisan-tulisanku mungkin tampak berlawanan dengan apa yang sedang aku jalani. Tapi justru di sanalah letak kebenarannya. Karena aku menulis bukan dari pencitraan, tapi dari kesadaran. Aku bukan sedang mengajarkan, aku sedang mengingatkan. Aku bukan sedang menunjukkan kebaikan, tapi sedang membongkar kepalsuan yang juga pernah jadi milikku.

Aku bukan ingin terlihat suci. Aku hanya ingin jujur.

Di zaman citra, manusia dijual dalam bentuk yang bisa dikonsumsi. Semua orang sedang berpura-pura... agar tidak ditinggalkan. Tapi dalam upaya diterima, kita sering kehilangan diri. Kita menjual kemanusiaan kita demi rasa "diakui". Demi eksistensi yang semu.

Aku sudah pergi jauh—ke dalam diriku sendiri. Di sana aku melihat bahwa semua yang aku cari di luar, ternyata sudah lama menunggu di dalam. Aku sadar, bahwa aku tidak ingin menjadi viral, populer, atau diagungkan. Aku hanya ingin abadi dalam makna.

Bukan dikenal karena jumlah followers,

tapi diingat karena pernah membangunkan kesadaran.

Karena itu, aku tak lagi ingin merasa sendiri. Aku tak mau kebenaran ini hanya tinggal di dalam dadaku. Aku menulis bukan untuk menginspirasi. Aku menulis karena ini adalah bentuk tanggung jawab. Sebab siapa pun yang pernah sampai pada kedalaman, tahu betul... bahwa cahaya yang ditemukan, tidak boleh disimpan sendiri.

Aku ingin kamu—siapa pun kamu—kembali ke dirimu sendiri.

Karena di sanalah jawabanmu.

Karena di sanalah Tuhanmu.

Karena dari sanalah kamu datang.

Dunia akan terus menciptakan sorotan, pencitraan, ilusi sukses. Tapi tugasmu bukan mengejar semua itu. Tugasmu adalah mengingat. Bahwa keberhasilan sejati bukan soal siapa yang lebih tinggi, tapi siapa yang lebih mengenal dirinya sendiri.

"Apa kau tahu siapa dirimu?"

"Apa kau tahu siapa Tuhanmu?"

"Di mana kamu sebelum semua ini dimulai?"

Mungkin inilah kemanusiaan yang ingin aku rawat—bukan yang ramai, tapi yang jujur. Bukan yang sempurna, tapi yang sadar."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prolog: Aku, dan Perasaanku yang Tunggal

Bab 14 Monokroso: Bentuk dari Kesunyian

Bab 13 Vision: Gunung di Utara dan Para Penjaga Api